Menko PM Serukan Kesehatan Mental Jadi Agenda Strategis Nasional

bagaimana RTP dirancang

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), A. Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa berbagai peristiwa tragis yang terjadi belakangan ini, termasuk kasus bunuh diri pada anak dan remaja, harus menjadi alarm serius bagi bangsa. Ia menyerukan agar isu kesehatan mental diangkat sebagai agenda strategis nasional yang mendapat perhatian bersama.

Pernyataan ini disampaikan dalam Dialog Solidaritas dan Partisipasi Publik bertema ‘Meningkatkan Ketahanan Psikososial sebagai Fondasi Pemberdayaan Masyarakat’ yang digelar di Universitas Indonesia, Kampus Salemba, Jakarta.

“Sekali lagi, kesehatan mental harus menjadi agenda strategis dan tanggung jawab bersama,” tegas Muhaimin dalam forum tersebut.

Data yang Mengkhawatirkan

Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, diperkirakan sekitar 28 juta masyarakat Indonesia mengalami berbagai masalah kesehatan mental. Angka ini, menurut Muhaimin, bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari persoalan yang bersifat kompleks dan multidimensi.

“Ini menunjukkan adanya fenomena gunung es yang sangat mengkhawatirkan. Situasi yang terlihat di permukaan bisa jadi hanya sebagian kecil, dan potensinya untuk bertambah parah selalu ada setiap saat,” ujarnya mengingatkan.

Akar Permasalahan yang Multifaktor

Muhaimin menjelaskan bahwa gangguan kesehatan mental jarang berdiri sendiri. Kondisi ini sering kali dipicu dan diperparah oleh sejumlah faktor struktural dan sosial.

Faktor-faktor pemicu tersebut antara lain kemiskinan struktural, tekanan sosial-ekonomi yang tinggi, melemahnya kohesi atau ikatan sosial dalam masyarakat, serta masih rendahnya literasi dan dukungan psikososial di tingkat komunitas paling dasar.

Seruan untuk Aksi Kolaboratif

Menghadapi tantangan yang sedemikian rumit, Menko PMK menekankan bahwa solusinya harus datang dari upaya kolektif. Pendekatan yang parsial dan sektoral dinilai tidak akan cukup.

“Itulah tantangan yang harus kita jawab bersama-sama. Kita perlu mengajak seluruh pihak dan bergandengan tangan untuk mengatasi akibatnya, sekaligus menangani akar penyebab dari gangguan kesehatan mental yang sangat kompleks ini,” pungkas Muhaimin, menutup pernyataannya.